Sabtu, 08 Februari 2014

FANFICTION

SONGFIC  ||  REST OF MY LIFE
Title     : Rest Of My Life                         
Author :       shelovepanda
Genre  :romance, little angst.
Length : Oneshoot
Rating  :PG-15
Cast     :Kevin Li (Kris EXO)
              Kim Geu Ra
Inspiredby Bruno Mars —— Rest Of My Life

                                                                     Author’sNotes :
Annyeooooooooong~ ~ thanks forpublishing my first fanfiction. Pertama, asal muasal cerita di FF ini adalahketika author denger Rest Of My Life nya Bruno Mars, sambil ngresapi sambilnulis deehh ^^ (abaikan). ~so, buat kalian para readers dianjurkan(?) sambil nge-play Rest Of My Life nya Bruno Mars. OKKee??? Biar lebih“ngena” sama ni cerita, ^^ 90maw0.. Ada lagi, castnya aku pakai Kevin Li a.k.a KrisEXO (hihiihii..) ..  ,,^-^,, Semua yangada disini bener-bener buatan author, mulai ide cerita, tulisan ceritasampaaaaiii poster ff ini,, don’t be a silent reader please ^^   HAPPY READING!!! ^^



^All KrisPOV^
 ~ Summary :
Saat aku telah memiliki apa yangbenar-benar aku inginkan aku pasti akan memandangnya sebagai sesuatu yang berharga—sangat-sangatberharga. Aku tak ingin dan tak akan pernah meninggalkannya atau bahkanmencampakkannya.
Sesuatu yang tak ternilai, yang ku inginkanpasti aku akan terus berusaha untuk menggapainya dan memiliknya walaupun akutahu itu butuh perjuangan atau bahkan pengorbanan. Hal itu berlaku juga untukcinta—tentunya.
—setelah aku memilikinya, aku mulaimerasakan, merasakan perasaan mudah kehilangan. Itukah konsekuensi memilikisesuatu yang berharga??? Ahh.. itu pasti.—
—Aku tak ingin kehilangannyawalaupun perasaan itu selalu membayangi. Perjuanganku belum berakhir,perjuanganku mempertahankanmu. Aku tau kata bijak itu “mempertahankan apa yangkita miliki tak semudah untuk mendapatkannya” dan itu juga berlaku untukku.— KevinLi

Thanks for yesterday, thanks fortoday, thanks for tomorrow. And thanks for our future…


——

EverydayI wake up next to an angel
More beautiful than words could say



Kusingkirkan dengan susah payah 2 buah boneka panda yang ukurannya menyamai anakusia 10 tahun dari atas tempat tidur, memberikan ruang gerak yang lebih luas dikasur ini. Mengingat 2 orang plus dua buah boneka panda itu selalu memberiruang tidur yang cukup sesak.

“Ilove you Ra-ya.” Ucapku sambil mengeratkan pelukanku pada tubuh mungilnya,menyalurkan kehangatan yang menurutnya hanya aku yang dapat memberikan iniuntuknya. Haahhaa.
Entahkenapa aku tak pernah bosan untuk melakukan ini padanya. Seperti yang kulakukansaat ini. Berbaring tepat di sampingnya, menjadi teman di tidur malamnya.
Akusudah dalam kedaan yang sadar walaupun mataku masih ku tutup rapat dan tubuhkumasih dalam posisi berbaring. Ku posisikan tubuh menghadap ke arahnya.

“Eungghh…”

Kudengar lenguhan Geu Ra—Kim Geu Ra, seorang yang juga turut menemani tidurkuadalah seorang yang sangat aku cintai,, sangat sangat sangat.. seandainya adakata yang ungkapannya melebihi itu akan ku katakan padanya, ini karena memangaku sangat mencintainya.

Kubuka perlahan mataku menantang kilauan sinar matahari yang masuk melewati celahjendela kamar ini. Menatap wajah polos gadis di depan ku ini sudah menjadikebiasaan ku saat bangun tidur. Aku sadar tarikan simpul di bibir ku membentuklengkungan tipis saat aku mengamati setiap detil kepolosan wajahnya sepertiini. Aku bahagia merasakan keadaan ini, seperti ini bersamanya, selalu dia yangpertama membuatku tersenyum.
GeuRa, seperti seorang malaikat yang selalu menjaga bunga tidurku sehingga hanyamimpi indah yang selalu aku mimpikan. Sungguh baik Tuhan kepada ku karenamengirim seorang malaikat yang nyata adanya. Terima kasih Tuhan…

“kautidak ke kampus??” tanyaku saat dia malah mempererat pelukannya di pinggangku.

“heii..Ra-ya???Aku tau kau sudah bangun dari tidurmu.” Ku usap pelan puncak kepalanya,membangunkannya.

“hariini aku tak ada kuliah, aku masih lelah dengan kegiatan kemarin. Aku inginmembayar hutang jam tidurku.”ucapnya tanpa membuka matanya.

“Kevin,temani aku.”lanjutnya masih dengan mata tertutup dan semakin mempereratpelukannya, kembali merangkai bunga tidurnya.

—***—

Theysaid it wouldn't work but what did they know?
Cause years passed and we're still here today
Never in my dreams did I think that this would happen to me


Flashback on

Akudan Geu Ra, tak sedikit yang menganggap hubungan ini hanyalah hubungan yangsingkat, sangat singkat. Hubungan yang hanya sebatas cinta masa sekolah.
Yaa,aku dan Geu Ra satu sekolah tingkat atas, aku di tingkat 1 tahun di atasnya. Hanyasekitar satu tahun—tepatnya 8 bulan aku dan Geu Ra berada di sekolah yang samakarena Geu Ra adalah siswi pindahan dari sekolah lain dan pindah ke sekolahku.Dan lebih pasnya lagi status pacaran kami saat itu baru 2 bulan. Aku harusmelanjutkan studiku di luar negeri karena keterpaksaan, mengikuti mama ku yangharus kembali ke Negara asalnya, China. Jujur, aku belum sanggup menjalankanhubungan jarak jauh ini. Aku masih ingin merasakan hangat musim dingin saat itubersamanya.

Akumasih ingat saat Geu Ra mendukung kepindahanku ke China. Saat itu aku sempatmengira ia dengan mudah dan rela melepaskanku, namun aku salah, ia mendukungkukarena nyatanya ia berjanji akan mampu melewati setiap perjuangan dalamhidupnya, dan aku sangat senang saat ia harus melewati perjuangan itu denganmelibatkan diriku, hubungan ini. Dan ini membuatku semakin mencintainya.

“kautau kan, kapan pelangi akan muncul? Setelah hujan. Ia akan menampakkan dirinyauntuk dilihat semua orang. Dan aku anggap ini mendung, pertanda hujan itu akandatang. Aku tau kau sedih, tapi tunggulah dan lihat pelangi yang akan tampaksetelah hujan ini.” Ucap Geu Ra sehari sebelum keberangkatan ku ke China.

Akubelum sepenuhnya mengerti apa maksud ucapannya. Kemudian ia membelai lembutpipiku dengan sebelah tangannya, seakan menyalurkan kesepahaman diantara akudan Geu Ra.

Melihatnyamenjadi tegar sangat mudah, ia selalu terlihat begitu di depan ku—dan tentu di depansemua orang. Namun aku tetap tau tentang kerapuhannya. Seperti saat ini, iarapuh namun entah mengapa masih mampu meneguhkan ketegarannya di depanku saataku tak ingin mengucapkan salam selamat tinggal, entah itu “See you next time..” atau malah“Good bye..”. aku harap aku tak mengatakan keduanya, karena aku masih inginbersamanya—di sampingnya—menjaganya.

“See you again Kevin, I hope youalways remember me,
and of course, I’ll remember aboutyou… All about you.”

Sungguhku rasa kan getaran tangannya yang masih menjamah wajahku, mata yang berbinarmiliknya kini ku lihat semakin sayu menampakkan kaca-kaca air yang akantumpah—dan kini tumpah—deras—sangat mudah melihat matanya kini yang dibanjiritangisnya. Turun membasahi pipinya—
Kuusap perlahan wajah sayunya dengan kedua telapak tanganku—pelan, penuhperasaan.. sungguh aku tak tega melihatnya seperti ini, ingin aku pergi menjauhdarinya—tidak melihat dirinya seperti ini. Sungguh terlalu jujur hatiku inijika itu tentang Geu Ra.

—Kau tau?? Aku merasa tenang saataku di selimuti kehangatan. Sangat nyaman rasanya saat… eemm saat…
Saat kau memelukku....—

Akuteringat apa yang Geu Ra nyatakan padaku, segera ku raih tubuhnya ke dalampelukanku, agar ia hangat-nyaman-dan merasa tenang.

“kaumenangis.. kau menyakitiku saat kau menangis Ra-ya.” Ucapku pada Geu Ra dengansuara yang bergetar tak kelah dengan getaran tubuh Geu Ra yang semakin kencang.

“kaupernah mengatakan padaku bahwa pelukanku akan membuatmu tenang, apakah itumasih berlaku?”lanjutku menenangkannya yang semakin menangis dengan kerassampai orang yang berlalu lalang di hadapan kami tak lepas pandang melirikkami, tapi itu ku acuhkan. Yang ku inginkan sekarang hanyalah Geu Ra yangtenang.

“hanya2 tahun, kau bisa kan? Tunggu aku.” Aku masih mencoba menenangkannya tanpamelepas pelukanku padanya. Kini tangisan Geu Ra berubah menjadi sesenggukankecil yang ku dengar sangat lucu, dan itu membuatku sedikit tersenyum. Ku raihpuncak kepalanya, mengelusnya pelan dan lembut menuruni rambut panjangnya.
Semakinkudengarkan sesenggukannya yang perlahan menghilang. Dan kurasakan keduatangannya yang terangkat—memeluk erat pinggangku dan semakin mengeratkannya.Pelahan ia melepaskan pelukannya padaku. Dan memberi isyarat padaku untukmelepaskan pelukanku padanya.

Kau sudah tenang Ra-ya???

“Gomawo.”ucapnyapadaku setelah tangis dan sesenggukannya mereda. Ku usap puncak kepalanya danmengecup keningnya—lama, ikut merasakan ketenangan padanya. Kemudian aku danGeu Ra saling berpandangan dan ia tersenyum, walau hanya senyum yang kecilnamun aku lega karena senyum itu penuh ketulusan, aku percaya Geu Ra menerimaini. Aku pun ikut tersenyum padanya. Ilove you, Ra-ya.

“Kauyang membuat ku nyaman. Selalu, dan hanya kau, pelukanmu hangat, sangat hangat.”Geu Ra sedang memujiku atau malah mengujiku?? Entah aku tak tahu—memujikudengan pelukan hangat milikku atau mengujiku untuk tidak meninggalkannya.

Dan kau tau Ra-ya?? Hanya kau yangjuga membuatku nyaman, kau yang akan selalu membuatku merasa tenang. I loveyou…

Just 2 years. Aku rasa itu hanyasebentar. Ia kan??” ucap Geu Ra.

“ya,,hanya dua tahun. Cukup…emm” kataku  tanpaada maksud untuk melanjutkannya. Aku kembali berkutat dengan pikiranku, cukup..—cukuplama menurutku. Memang hanya dua tahun—hanya. Tak sampai lima atau bahkansepuluh tahun, itu terasa melegakan bagiku.

Namun,jika dihitung kembali, dua tahun merupakan waktu yang lama—sangat lama. Duatahun ada 24 bulan berarti ada sekitar 106 minggu, dan tentu akan ada 106 x7..emm sekitar 742 hari. Satu hari ada 24 jam, berarti sekitar 17.800 jam…AAHHHHHHHhh.. aku frustasi dengan memikirkan itu. Sudah, lebih baik akumenerima ini semua, kenyataan yang juga Geu Ra terima.
——
Pagihari berikutnya sekitar pukul 9, aku sudah berada di bandara menunggu jadwalkeberangkatan ku ke China, bersama Mama, dan tanpa Geu Ra. Aku siap berangkattanpa kehadiran Geu Ra. Mama sempat bertanya padaku kenapa Geu Ra tak mengantarkami ke bandara. Dan aku dengan berat mengatakannya kepada Mama, karena memangaku tak mau mengungkitnya.

GeuRa tak ikut mengantar karena inilah mauku, aku tak ingin melihat Geu Ramengantar kepergianku. Bukan tanpa alasan, namun ini bukanlah kepergianku yangterakhir juga bukan untuk selamanya karena aku akan kembali, dan sudah tentuitu kepadanya. Wait me for a while KimGeu Ra…

Bukanmama jika tak memaksaku memberi salam selamat tinggal—maksudku salam sampaijumpa—  pada Geu Ra yang notabennyaadalah pacarku, mama juga sangat menyayangi Geu Ra.

Kuminta hanphone mama—meminjamnya, untuk menghubungi Geu Ra. Kenapa tidak memakaihandphone ku?? Tentu karena aku tak ingin mendengar suara sendunya (lagi)setelah semalam kami banyak bercerita sebelum keberangkatan ku ke China.Semalam ia menangis, menangis lagi karena aku. Aku senang tak melihatnya saatmenangis, karena itu akan sangat membuatku merasa bersalah. Namun aku sedihsaat aku tak bisa memberikan ketenangan yang ia butuhkan disaat-saat sepertiini.

Kuberikan handphone kepada Mama setelah terhubung dengan Ra-ya.

“GeuRa-ya……” mama memulai pembicaraannya dengan Raya.
Akumenjauh dari mama,, ahh bukan, melainkan mama yang menjauh dariku setelah iamemulai pembicaraan dengan Geu Ra. Seakan Mama tau apa yang kupikirkan dantentu yang kurasakan. Aku berusaha mengalihkannya dengan mendengarkan lagu danmemasang earphone di telingaku—keduatelingaku.

***

Akusampai, di China, tanah kelahiran Mama ku. Bukan jetlag yang kurasakan sekarang, melainkan perasaan tak karuanmemikirkan Geu Ra, sedang apa dia, dimana dia, bersama siapa dan masih banyaklagi..

“Aku dan Mama sudah sampai,baik-baik di sana Ra-ya.         
I love you as always” ku kirim pesan singkat itu padanya, hanya sekedar pesansingkat, itulah kemauannya. Ia memintaku mengirim pesan singkat padanya selalahaku dan Mama sampai. Dan itu langsung kulakukan karena tak ingin ia merasakhawatir.

Barusehari aku disini, aku sudah sangat sangat merindukannya. Ini masih akanberlangsung lama. Aku harap kau menungguku karena aku akan—pasti kembalipadanya Kim Geu Ra.
Akupulang ke China untuk menemani Mama tinggal dan aku juga akan melanjutkansekolahku disini. Aku selalu berharap ini akan berlangsung cepat—sangat cepatagar aku dapat kembali pada Geu Ra.

“jangan putus komunikasi ya..walaupun kau akan sangat sibuk disana. Aku tak akan menuntutmu untukmenghubungiku berapa kali. Aku hanya ingin kita tetap bisa saling berbagicerita. Aku pasti juga akan membagikan ceritaku padamu.” Geu Ra mengatakan itu padaku.

“hemm,,ceritakan semuanya padaku, entah itu suka, senang, lucu atau kesedihanmu.Ceritakan semuanya padaku.”

“emmhh..tentu aku akan membaginyapadamu.”

2bulan sudah aku meninggalkan Ra-ya, dan masih tersisa 22 bulan lagi. Aku danGeu Ra masih berkomunikasi, hubungan yang masih berjalan dengan baik walaupundengan keadaan long distance.Tangisan Geu Ra yang di awal kepindahanku kurasakan semakin jarang kudengar saataku menghubunginya. Kini ia sudah bisa tertawa tanpa paksaan dariku saat akumenelfonnya.

Akujuga senang mendengar tawanya. Kau masihmenungguku kan Ra-ya?? Aku tak ingin memberikannya pertanyaan itu,pertanyaan yang menurutku lebih dimengerti sebagai tuntutan.
Memasukiawal semester 2 aku di kampus, itu berarti sudah 6 bulan aku tak bisa disampingnya dan sudah bulan ke 8 hubungan yang kami jalani. Aku terkesiap banggapada Geu Ra dan pada diriku sendiri—sudah cukup lama dan hubungan kami masihbaik, terjalin sangat baik. Komunikasi menjadi penentu langgengnya suatuhubungan—aku percaya itu.

Banyakcerita yang Geu Ra bagi padaku, banyak diantaranya ia merasa senang, apa diasenang tak bersamaku??—aku buang jauh-jauh pikiran itu dari kepalaku. Aku tau kau masih menungguku. Dan juga,,maaf karena telah membuatmu menunggu…

20 bulan kemudian…

Kiniaku mulai sibuk dengan kegiatan kuliahku yang memasuki semester akhir. Akusemakin jarang menghubungi Geu Ra, namun aku tetap berusaha sering memberinyapesan singkat. Walau hanya sekedar sapaan, aku senang ia membalasnya.

Malamini, malam yang seperti 1 bulan akhir-akhir ini, aku belum tertidur, matakubelum bisa kupejamkan dengan nyenyak walaupun badanku sudah terasa sangatletih. Aku berbaring di tempat tidur, memandangi wajah Geu Ra yang sedangtersenyum padaku dan membuatku ikut tersenyum kepadanya. Wajah Geu Ra yangsedang tersenyum semakin memudar dari pandanganku menjadi..menjadi lagit-langitkamarku—ahh,, itu hanya ilusiku, akusangat merindukanmu Ra-ya.

Aku takut kau mulai melupakanku..
Maaf, aku semakin jarang menelfolmuRa-ya.

Entahpikiran apa yang merasukiku untuk menghubung Geu Ra malam ini, ini sudahterlalu larut dan tentu ini melewati jam tidur Geu Ra. Keyakinanku sangat kuatuntuk menelfon Geu Ra malam ini, dan benar saja aku mencari kontak Geu Ra di handphone ku dan—dan aku menunggupanggilan itu tersambung, berharap pemiliknya menjawab panggilan ku ini.

10detik… aku berharap ia mengangkatnya
20detik… aku masih berharap

“yeobseoyo… Kevin???” dan benar saja, Geu Ra mengangkat telfon dariku, danmemanggilku, Kevin???

Sungguhperasaan yang kurasakan saat ini bercampur-campur, senang karena aku mendengarsuaranya, sedih karena aku tak mampu melihatnya saat ini juga, ia sedang apa?

“haii..”entah kenapa suara seperti ini yang ku perdengarkan padanya disaat sepertiini—suaraku penuh getaran dan parau. Akusangat sangat merindukanmu Ra-ya.
Kucoba bertahan tanpa suara parau itu, aku mencoba “biasa”.

“kaubelum tidur Ra-ya? Ini sudah melebihi jam tidurmu kan?”

“aku baru saja bangun, aku tadisudah tertidur.”

“Apaaku yang membangunkanmu??”

“Ani,, tidak. Aku bangun karena….”


“karenaapa??”
“karena aku.. aku,,,,, ahh mungkinkau merasa ini lelucon, atau kau malah tak akan mempercayainya..”

“kaumembuatku penasaran, apa kau merasa aku akan menelfonmu malam ini??” aku asalmenebak apa yang akan Geu Ra katakan.

“Ne.. dan kau benar-benarmenelfonku.” Ia sedikit terkekeh dengantebakanku yang ternyata ia benarkan.

“akusangaaaaaaaatt merindukanmu. Kau masih mencintaiku??” entah kenapa pertanyaanseperti ini yang kuberikan padanya, pertanyaan yang selalu kutanyakan padanya yangjelas-jelas sudah aku tau jawabannya.

“kau tau jawabannya, kenapamenanyakan padaku hal ini?” nadabicaranya kini menjadi serius, membuatku merasa bersalah padanya.

“maaf,,maafkan aku,, aku tau jawabanmu, tapi aku hanya ingin kau mengatakan inipadaku.” Jujur, aku hanya ingin ia mengatakan bahwa ia sangat merindukanku dania masih tetap mencintaiku dan tentu ia masih menungguku.

“…………….”tak ada jawaban, dia marah???

“akutak meragukan mu Ra-ya… kumohon bicaralah,, aku akan tenang setelah kaubersuara.. walau itu hanya sedikit saja. Geu Ra, dengarkan aku, kumohon..” akuberpindah posisi dari tiduran menjadi terduduk, kini aku terbawa suasana, akusungguh merasa bersalah padanya, aku menyesal menanyakan hal ini padanya.

“akumenyesal Ra,, sungguh. Ku mohon maafkan aku…”

“………..” masih tak ada jawaban.                      

“……….”aku ikut terdiam, menyesali pertanyaan yang aku tanyakan padanya.

“………‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takesmy breath away
And I breath you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side…——
If You're Not The One (Daniel Bedingfield)ini lebih dari yang kuminta, hanya sedikit suaranya yang kubutuhkan, namun GeuRa memberiku lebih, ia bernyanyi, suara yang sangat indah, bukan untuk pertamakalinya aku mendengar ia bernyanyi selama ini karena aku tau hobi Geu Ra adalahbernyanyi.

“maaf sudah menanyakan pertanyaanbodoh itu padamu, suaramu sangat indah.” Aku menginterupsinya dengan permintaanmaaf ku setelah Geu Ra selesai menyanyikan lagu itu, walau sesungguhnya akumasih menginginkan part kelanjutan lagu itu.

“kau memaafkan ku kan?? Maaf ataspertanyaaanku, dan juga maaf, maaf karna aku akhir-akhir ini jarangmenghubungimu.”pinta ku dengan suara memelas.

“tak ada yang salah kan?? Kau tak perlu minta maaf.”

“kau berubah, tapi aku lebih suka..hahhaa..” aku merasa perubahan yang besar sudah nampak pada dirinya setelahhampir 2 tahun ini aku tak melihatnya dan menghadapinya secara langsung.

“Aahhhh,,apakah aku berubah?? Ani,, aku tak berubah, kausaja yang tak tau.”

“kau berubah….—.. menjadi lebihdewasa. Aku suka,,” entah ada apa dengannya sekarang, tapi aku membayangkannyamenjadi Geu Ra dengan pipi yang memerah.. haahhaa.. Saranghae Geu Ra.

“hhmmm… Ohh, atas permintaan maafmu yang kedua, Kau sibuk,kau menjadi orang penting sekarang??haahahhaa..” ia tertawa, puas saat mengetahui aku menjadi orang sibuk,yang pada kenyataannya ia tau bahwa aku kurang suka dengan kesibukan. Menjadisebuah tuntutan dengan apa yang aku hadapi di akhir semester seperti ini.

“hahha,,, kau puas haa?? Melihatkusibuk kau senang Ra-ya?? Kau tau?? Aku lelah,, sangaaaatt lelah..”

“aku bukan menjadi orang sibuk,melainkan menjadi korban kesibukan orang lain sehingga aku ikut-ikutan sibuk.”lanjutku.

“Dosenmu? Ini semester akhir, sudah seharusnya begitukan??”

“Ne, tapi tidak begini juga kan??Aku harus kesana kemari mencari keberadaan dosen yang… AAHHHhhh.. entahlah,,,hanya memikirkannya saja aku sudah pusing.”

“emmm..—”ku dengar Geu Ra hanya meresponku dengan lenguhannya.

“aku jadi lebih suka tidur larutmalam, melebihi jam tidurku, mata ku jadi ANEH.. jadi seperti..seperti panda..huftt..”

“hahaa,, bukankah kau tak memiliki jam tidur?? Dan.. kauseperti PANDA??” ia sedikit berteriak saatmengatakan aku seperti panda.

“hmmm..”aku mengangguk.

“ahh..aku jadi ingin melihatmu yang seperti PANDA. Bukankarena kau di China kan, lalu kau seperti panda?? Jika kau di Arab mungkin kauakan seperti unta, lalu jika kau di Australia kau akan seperti kanguru, lalukalau kau di Indonesia mungkin kau akan seperti komm..”

“hei..hei..hei..maksudmu???” akumemotong cepat pembicaraan Geu Ra yang sudah melenceng jauh tak mengarah.. Hahh~~

“Kom..komodo..hahahaa. ahh,,maksudku, aku suka PANDA.”

“itu pujian atau ledekan,,haa??” akugeli dengan pembicaraan yang sangat tak berarah ini, Geu Ra. You make me smile..dan aku sungguhsenang saat ia bilang ia menyukai PANDA, ia memang sangat menyukai dengan hewanhitam putih itu, PANDA.

“aku akan membawakanmu panda, saataku kembali nanti..”

“Benar?? Aku mau 2,, okke??”

“hmm,, hanya 2?? Tak kurang??”

“Ani,, kau tidurlah, ini sudah terlalu larut. Jaljayo...MYPANDA..hahhaa”

“Kau juga, tidurlah, bye,, have nice dream my guardian angel.” Aku menunggunya menutupsambungan telfon. Dan kini perlahan aku memejamkan mata dengan membayangkansosok my guardian angel, Kim Geu Ra. Jaljayo..

***

23 bulan kemudian…

Aku selesai, selesai dengan tugas akhirku dan selesailahkuliahku di sini,, hari yang benar-benar aku tunggu. Kelulusan, bukan alasanutama aku merasakan senang luar biasa saat ini, melainkan—aku bisa kembali keKorea, menemui Geu Ra dan akan selalu ada di sampingnya.

Aku ingin segera menemui Geu Ra, aku mempersiapkansemuanya—tak terkecuali oleh-oleh yang sudah aku janjikan padanya. Mamamempersiapkan semuanya untuk keberangkatan—ataupun—kepulanganku ke Korea. Akusengaja tak memberitahu padanya kabar kepulanganku ini, biar ini menjadiSURPRISE untuknya,, hahaahhaa..

Aku sampai di Korea malam harinya dan segera menuju apartemen milik Mama yang dulu kami tempati  dan kemudian melepas penat setelah perjalananudara dari China ke Korea. Aku masih belum memberi tahu Geu Ra dengan alasanaku tak ingin mengganggunya karena ini sudah larut. Aku sungguh bersyukur karenaaku sudah sampai di Korea sekarang, ini lebih cepat sekitar satu bulan darijadwal kepulanganku dan janji kembalinya aku pada Geu Ra.


Pagi harinya, sekitar pukul6.00 KST aku bersiap-siap menuju bandara—bukan untuk kembali ke China. Akuberangkat menuju bandara dengan taksi. Memang benar ini terlalu pagi, karenaaku ingin segera menemuinya, aku sengaja memilih pagi buta ini.

“kau tak mau menjemputku??” begitulahpesan singkat yang kirim ke nomor Geu Ra. Tak hanya sekali kukirimkan peasnsingkat itu setelah aku tak kunjung dapat balasan darinya.
15 menit tak ada balasan, aku yakin dia masih terlelap dalamtidurnya. Hufft

“kau belum bangun??? Cepatbangunlah, Mr.PANDA menunggumu.” Lagi, ku kirim pesan itu padanya. Ku alihkanpesan singkatku, dan mencoba menelfonnya.
Tuuutt..tuuttt

“yeobseoyo…”terdengar suarakhas orang yang belum sadar dari bangun tidurnya—Geu Ra.

“kenapabelum bangun??”

“aku sudah bangun. Dan kau orangyang membangunanku,,, sekaligus mengganggu tidur nyenyakku. Ada apa haa??”

“kautidak kuliah?? Ini bukan hari libur Ra-ya??”

“ani, aku memang tak ada kuliah hariini. Kau, kau kenapa menelfonku pagi buta begini haa??”

“kautak membaca pesan dariku??”

“kau mengirimiku pesan??” ia sedikit berteriak. Sepertinya sekarang ia sudah sadardari tidurnya.

“yes,,bacalah. Aku menunggumu.” Aku segera menutup sambungan telfon, walaupunsepertinya ia masih enggan memutus pembicaraan kami.

Akusampai di bandara setelah sekitar 15 menit perjalanan dengan taksi, waktu yangsingkat mengingat jalanan yang sangat lengang di pagi-pagi buta seperti ini.Kini aku menunggu, menunggu kedatangan sosok yang benar-benar aku rindukan, GeuRa. Cukup lama aku menunggunya—sekitar 25 menit.

Kurasakan getaran di saku jaketku, dan—Geu Ra menelfonku.

yeobseoyo,,” ku angkat panggilandarinya.

“kau sekarang dimana eoh?? Kaumembuatku tergesa-gesa, Kevin. Kau tau ini jam berapa?? Kau dimana?? Kau sudahsampai?” tanyanya tidak sabar.

“emmhh,,sudah”

“aisshh.. jinja. Kau menyebalkan.Aku baru saja sampai, Kevin.”

“kaudimana??” kini kau balik bertanya padanya. Sambil berjalan menuju pintukedatangan, aku mencari sosok Geu Ra.

“aisshh, kau ini. Aku yang bertanya padamu,where are you??”

Mataku menangkap sosok gadis dengan dress warna milo dan dibalut jaket tebal warnacoklat tua dengan akses bulu di bagian hodienya, memakai sepatu boat hitamsetinggi lutut dan rambut hitam yang terurai panjang menutupi bagian punggungnyasambil menenteng handphone di telinganya. Cukup keras ia bicara dengan orang diseberang—mengingat di sini masih cukup lengang—dan ia menarik perhatianku.Kedua ujung bibirku tertarik membuat simpul—aku sangat senang melihat sosoknya.

Perlahanaku mendekatinya, dan dia masih dalam posisi yang sama—membelakangiku.
“hereI am.. my little panda.” Tepat di telinga kanannya aku bicara—sambil menjawabpertanyaannya.


As I stand herebefore my woman
I can’t fight back the tears in my eyes
Oh how could I be so lucky
I must've done something right



“Eoh,,k-ke,,Kevin.” Aku tau ia sangat terkejut dengan keberadaanku disini—tepatdihadapannya. Ia mulai menjamah pelan wajahku—pelan dan lembut. Sama sepertiwaktu dulu—saat keberangkatanku ke China. Dan sekarang ia mengulanginya lagi.Kini ia juga akan menangis. Dan segera ku tangkupkan kedu tanganku ke keduasisi wajahnya—berusaha membendung air matanya yang akan tumpah, namun tetapsia-sia karena air matanya tetap merembes keluar. Dan aku melakukan hal yangsama dengannya—menangis.

“Akudisini Ra-ya, kau senang sekarang. Aku kembali. Dan itu untukmu dan jugakembali padamu. Aku sudah memenuhi janjiku kan??” Segera kurengkuh tubuhnyamendekat dan kupeluk erat—sangat erat. Aku tak mau lagi melepaskannya walaupunpelukan ini kian rapuh dimakan usia, tapi aku yakin kedua tanganku masih mampumemberikan kehangatan dan kenyamanan yang selalu ia butuhkan.

I’m so lucky.. aku merasa sangatberuntung dengan hidupku, sungguh aku memiliki orang yang benar-benar akubutuhkan, bukankah itu sebuah keberuntungan yang luar biasa? Seperti aku hidupdengan adanya oksigen di sekitarku. Dia mampu menjadi sosok yang menggemaskandengan tingkah manjanya, menenangkan dengan ucapannya, menguatkan dengan airmatanya, dan juga menjadi sosok membanggakan dengan kesetiannya. And I promiseto love her for the rest of my life. Walaupun mungkin itu tak sepadan denganapa yang sudah ia lakukan dan ia berikan untukku. Waktu yang tak sebentar danperjuangan yang tak mudah baginya untuk menunggu sosok diriku yang tak sempurnatanpanya.

“akusangat merindukanmu, sangaaattt. Kau tau Kevin?? Entah seberapa besar perasaanitu aku rasakan, setiap saat, berkali-kali aku merasakannya. Dan—…dan itu cukupmenyiksa.” Ia masih terisak di pelukanku. Dan semakin mengeratkan pelukannya dipinggangku. Tak ingin aku melepaskan pelukan ini, karena tetap tak akan mamputerbayar dengan lamanya waktu ‘ketidakbersamaan’ kami selama hamper dua tahun.

“akutau—sangat tau, karena aku pun begitu, sama sepertimu Ra-ya. Aku sangatmerindukanmu, setiap saat. Entah saat aku sedang melakukan apa, kau selaludipikiranku. Dan kini aku memenuhi janjiku padamu kan?” ku coba menatapwajahnya dan dengan perlahan melepas tautan pelukan antara aku dan Geu Ra.Namun tak bisa, ia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku, aku tau iasangat merindukan saat-saat seperti ini.

“kenapakau kembali lebih cepat dari jadwal mu semula? Kau seharusnya pulang bulandepan.”

“kautak suka aku ada di sini sekarang haa??”

“ani,bukan seperti itu.” Ia melepas pelukannya dan kini menatapku dengan wajah yang sangatmenggemaskan. Ku hapus jejak air mata di pipinya dan kemudian mengacak pelanpuncak kepalanya lalu ku cium lembut pipinya. Kulihat semburat merah yangsekian lama tak kulihat muncul di pipinya setelah aku menciumnya. Kau sangat cantik Geu Ra.

“ohh,,mana panda yang akan kau bawakan untukku??”

“diapartemen.”

“kau,,kau tidak pulang hari ini?? Kapan kau sampai? Kenapa tidak menghubungiku? Bukanaku orang pertama yang kau temui ha?? Kau tak merindukanku Kevin Li?? Aisshh,,,kau sangat menyebalkan.” Sosok dewasa itu seakan hilang tergantikan dengansosok cerewet yang sangat lama tak kulihat—ia memberondongku dengan sekianbanyak pertanyaan yang sebenarnya tak semua harus ku jawab. Aku mendekatpadanya dan langsung menggendongnya menuju taksi yang ada di depan pintu masukbandara.

“yyaa..yya..yyaa,, Kevin,, apa yang kau lakukan haa?? Turunkan aku,, cepat turunkan.. apakau mau aku berteriak haa?? Cepat turunkan aku..” tak ku pedulikanocehan-ocehan yang keluar dari mulut mungilnya itu, aku malah tertawamendengarnya.

“yyaa,,Kim Geu Ra, tenanglah.. kau mau PANDANYA kaann??” ucapku setelah mendudukannyadi dalam taksi. Sengaja memang ku tekankan kata PANDA untuk mengalihkanperhatiannya. Dan ia patuh,, ia diam, menjadi sosok Geu Ra yang dewasa.

Sesampainyadi apartemen. Aku langsung masuk kamar dan mengambil PANDA yang benar-benar GeuRa inginkan sementara Geu Ra menunggu di ruang tengah.

“ige,,PANDA untukmu.” Aku mendudukkan 2 PANDA itu di samping tempat Geu Ra duduk.

“ige??Ahh, ku kira kau akan benar-benar memberikanku PANDA,,
keunde, gomawo, aku sangat suka boneka panda ini, walaupunsebenarnya aku mau PANDA YANG SESUNGGUHNYA, ini..inii—sangat mirip dengan muMr. PANDA..hahaa...”

“kautak boleh asal memilikinya Ra-ya, kau tau kan?”

ara,, ara. Aku tau. Thanks for the biggest gifts. I like it. Okay, ini Mr.Panda dan iniMiss Panda.” Ia menamai boneka panda yang ku berikan padanya. Mr. Panda, iamenamai boneka panda dengan aksen dasi kupu-kupu yang ada di lehernya dan MissPanda untuk boneka panda yang memakai jepit pita di telinga kanannya.

“gomawoKevin.” Ia mengecup singkat pipiku dan tersenyum tulus kepadaku. 

***
Flashbackoff


Seems like yesterday whenshe first said hello
Funny how time fly's by when you're in love
It took us a lifetime to find each other
It was worth the wait cause I finally found the one
Never in my dreams did I think that this would happen to me



Di saat seperti ini—menatapnya diantarajarak yang sangat dekat membuatku tak ingin menjauh darinya, meninggalkannyawalau sementara—hanya ingin selalu di sampingnya.
Waktu seakan sangat cepat berlalu.Masih lekat di benakku saat pertama kali aku dan Geu Ra bertemu, berkenalan,menjadi teman, semakin dekat dan hubungan ini pun terjalin. Dan sampai saatini, aku masih dengannya—bersamanya—menjaganya dengan hubungan ini.

Tak sedikit dan tak kecil perjuanganhubungan yang banyak terjalin dengan keadaan long distance. Geu Ra sungguh sosok tegar yang mampu melengkapikeadaanku seperti ini. Aku yakin dia akhir penantianku selama ini. Geu Ra—KimGu Ra. Aku dan Geu Ra mampu saling melengkapi kekurangan yang ada. Dia menguatkanku. Saranghae Kim Geu Ra.

Memang seharusnya tak ada penantianwaktu seperti yang kulakukan, melainkan menjalani setiap keadaan waktu danwaktu akan berlalu dengan sangat cepat. Dan akan terasa lebih berarti jikamenjalaninya dengan orang yang benar-benar dicintai. Orang yang sangat berartidalam kehidupan. Satu-satunya sosok yang mampu mewarnai dan mampu memberikanarti kehidupan yang sesungguhnya—untuk saling berbagi.

Geu Ra—Kim Geu Ra—ia sudah menjadimilikku seutuhnya, menjadi pendamping hidupku dalam keadaan apapun, sosok yang akanselalu ku cintai seumur hidupku. Gadis yang hanya menjadi teman di awal ceritadan kini menjadi pendamping seumur hidupku sampai akhir cerita hidupku. Aku puntak pernah membayangkan hal ini, sebuah mimpi yang sudah menjadi realitaskehidupanku,  menjadi seorang suami danayah—nantinya—bersama Geu Ra.

Aku berjanji pada diriku sendiri,aku akan selalu ada di sampingnya, menjaganya, mewujudkan mimpi-mimpi bersamadan akan selalu seperti itu, seumur hidupku—bersamanya.
Sungguh akhir yang membahagiakan. Gomawo Ra-ya,, saranghae…..

Danbaiklah, kembali aku menemani tidurnya. Walaupun aku harus berangkat kerja jam9, tapi aku memang tak bisa menolak keinginannya. Dan akhirnya aku menemanitidurnya—lagi.
Akuterbangun tepat jam8 dan bersiap-siap berangkat kerja. Setengah 9, akuberpamitan dengan Geu Ra yang masih lelap dengan tidurnya, ku kecup pelan dahikemudian pipi kanan dan pipi kirinya, lalu ke hidung dan bibirnya lembut. Kulihat geliatan pelan tubuh mungilnya. Sangat cantik..


“Just for a while, and I’ll beback.. Annyeong Ra-ya…
Begitulahsalam yang selalu ku berikan kepadanya,


~~~


As I stand here before my woman
~Saat aku berdiri di sini di hadapan wanita pujaanku      
I can’t fight back the tears in my eyes
~Tak bisa kutahan air mataku
Oh how could I be so lucky
~ Oh,bagaimana mungkin aku bisa begitu beruntung
I must've done something right
~ Pastiaku telah melakukan sesuatu yang benar
And I promise to love her for the rest of my life~ Dan aku berjanji akan mencintainya seumurhidupku


~~~



COMPLETED ^^

~~~Kkeut…~~~
Okay.. gomawo buat reader-deul yang uda baca, tolong kasihcomments yaahh,, ni ff adalah ff pertama aku yang ke publish, walau bukan ffpertama yang ku buat. Aku masih belajar buat ff yang bener-bener bisa “ngena”sama readersnya. Mian kalo belum“ngena” ^^. Juga buat TYPOs yang masih pada bertebaran..mian,, Okay?? ^^
~~~gomawo..gomawo..gomawo~~~
*deep bow*